Sultan Syarif Kasim II, Tokoh Riau yang Rela Serahkan Kekayaan demi Kemerdekaan Indonesia
SIAK, NALARKAN.COM – Nama Sultan Syarif Kasim II menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sultan ke-12 sekaligus penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura tersebut dikenal karena dukungannya terhadap Republik Indonesia, termasuk menyerahkan kekayaannya untuk membantu pemerintahan yang baru merdeka.
Sultan Syarif Kasim II lahir di Siak Sri Indrapura pada 1 Desember 1893. Ia merupakan putra Sultan Syarif Hasyim dan dinobatkan sebagai Sultan Siak pada 1915. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Siak tidak hanya berkembang dalam pemerintahan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Menentang Penjajahan Melalui Pendidikan
Sultan Syarif Kasim II dikenal memiliki perhatian besar terhadap pendidikan rakyat. Ia mendorong pendirian sekolah dan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.
Pada 1917, ia mendirikan Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah. Bersama permaisurinya, Tengku Agung Sultanah Latifah, ia juga mendukung pendidikan bagi perempuan melalui pendirian Latifah School pada 1926.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upayanya meningkatkan pengetahuan masyarakat di tengah masa penjajahan. Ia memandang pendidikan sebagai salah satu jalan untuk memperkuat kemampuan dan kemandirian rakyat.
Menyatakan Dukungan kepada Republik Indonesia
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian dari Republik Indonesia.
Dukungan tersebut tidak berhenti pada pernyataan politik. Pada November 1945, ia menyerahkan bantuan sebesar 13 juta gulden kepada pemerintah Republik Indonesia untuk mendukung perjuangan dan penyelenggaraan pemerintahan negara yang baru berdiri.
Bantuan dalam jumlah besar itu menjadi salah satu catatan penting kontribusi tokoh dari Riau terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sikap Sultan Syarif Kasim II menunjukkan dukungannya terhadap persatuan Indonesia, meskipun keputusan tersebut berarti melepaskan kedudukan dan kekuasaan kesultanan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Atas jasa dan kontribusinya bagi bangsa, Sultan Syarif Kasim II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998 melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998.
Ia wafat di Rumbai, Pekanbaru, pada 23 April 1968 dalam usia 74 tahun. Meski telah tiada, namanya tetap dikenal oleh masyarakat Riau dan Indonesia.
Pemerintah mengabadikan namanya pada sejumlah fasilitas penting, termasuk Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru. Namanya juga digunakan oleh Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Perjalanan hidup Sultan Syarif Kasim II menjadi bagian dari sejarah Riau yang memiliki keterkaitan erat dengan perjuangan nasional. Dukungan terhadap pendidikan, penolakan terhadap penjajahan, dan kontribusinya bagi Republik Indonesia merupakan warisan sejarah yang terus dikenang hingga kini.
Opini Pembaca
Belum ada opini untuk berita ini.
Ingin menyampaikan pendapat? Masuk atau daftar terlebih dahulu. Opini diperiksa redaksi sebelum tampil.
Ingin menulis tanggapan yang lebih panjang? Tulis artikel opini untuk berita ini →