Skip to content
Breaking

Potensi Kerang Darah di Pasir Limau Kapas Menjanjikan, Rokan Hilir Pernah Produksi 6.492 Ton

Kamis, 05 Nov 2026 09:09 WIB

ROKAN HILIR, NALARKAN.COM – Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir, memiliki potensi besar di sektor perikanan, khususnya komoditas kerang darah (Anadara granosa). Wilayah pesisir yang berada di kawasan Panipahan ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kerang darah di Provinsi Riau.

Potensi tersebut didukung oleh penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal IPTEKIN: Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi pada 30 Juni 2024. Penelitian yang melibatkan peneliti dari Bappedalitbang, Universitas Riau, dan Universitas Diponegoro itu mencatat produksi kerang darah Kabupaten Rokan Hilir mencapai 6.492,47 ton pada 2018.

Angka tersebut menyumbang sekitar 49,67 persen dari total produksi perikanan budidaya Rokan Hilir yang mencapai 13.072,21 ton pada tahun yang sama.

Dalam penelitian tersebut, Kecamatan Pasir Limau Kapas disebut sebagai salah satu wilayah penghasil kerang darah terbesar di Rokan Hilir, selain Kecamatan Bangko dan Sinaboi.

Besarnya potensi ini menjadikan kerang darah sebagai salah satu komoditas perikanan yang berpeluang mendukung perekonomian masyarakat pesisir, khususnya para pembudidaya, nelayan, pedagang, hingga pelaku usaha pengolahan hasil laut.

Kondisi Perairan Mendukung Budidaya

Penelitian berjudul Analisis Lingkungan Perairan pada Kawasan Budidaya Kerang Darah (Anadara Granosa) di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau juga mengungkapkan sejumlah parameter kualitas air di kawasan budidaya.

Hasil penelitian mencatat tingkat salinitas sekitar 34 ppt, suhu perairan berkisar 28,7 hingga 29 derajat Celsius, serta pH sekitar 8.

Sementara itu, kandungan oksigen terlarut tercatat berkisar 4,4 hingga 6,1 mg/l dan alkalinitas 120 hingga 125 mg/l.

Dalam abstrak penelitian tersebut dijelaskan bahwa sejumlah parameter kualitas perairan berada pada kisaran standar baku mutu yang baik untuk mendukung kehidupan kerang darah.

Ketersediaan plankton juga menjadi salah satu faktor pendukung. Penelitian mencatat kelimpahan plankton pada tiga titik pengamatan masing-masing mencapai 30.959 individu per liter, 15.032 individu per liter, dan 5.011 individu per liter.

Plankton merupakan salah satu sumber makanan alami bagi pertumbuhan kerang darah.

Tetap Perlu Pengawasan Lingkungan

Meski memiliki potensi ekonomi yang besar, pengembangan budidaya kerang darah di Pasir Limau Kapas tetap membutuhkan pengawasan terhadap kualitas lingkungan perairan.

Penelitian yang sama menemukan tingkat kecerahan air berada pada kisaran 50 hingga 55 sentimeter, masih di bawah standar baku mutu yang dipersyaratkan, yakni 60 sentimeter.

Selain itu, peneliti juga mengidentifikasi keberadaan mikroplastik berupa nilon, polyethylene, dan polypropylene pada sampel air serta sedimen di perairan Panipahan.

Temuan tersebut menjadi perhatian penting agar aktivitas budidaya kerang darah tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Pengawasan kualitas air, pengelolaan limbah, serta pemantauan kandungan bahan pencemar perlu dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas hasil perikanan.

Peluang Ekonomi Masyarakat Pesisir

Potensi kerang darah di Pasir Limau Kapas dapat dikembangkan lebih jauh melalui peningkatan produktivitas budidaya, penguatan kelompok pembudidaya, serta pengembangan industri pengolahan hasil perikanan.

Pengolahan kerang menjadi produk bernilai tambah juga berpeluang membuka lapangan pekerjaan dan memperluas pasar bagi masyarakat setempat.

Dengan dukungan pemerintah daerah, dinas terkait, akademisi, dan pelaku usaha, komoditas kerang darah berpotensi menjadi salah satu kekuatan ekonomi unggulan kawasan pesisir Rokan Hilir.

Namun, pengembangan tersebut perlu ditopang data produksi terbaru agar potensi ekonomi yang dimiliki Pasir Limau Kapas dapat dikelola secara terukur dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Opini Pembaca

Belum ada opini untuk berita ini.

Ingin menyampaikan pendapat? Masuk atau daftar terlebih dahulu. Opini diperiksa redaksi sebelum tampil.

Ingin menulis tanggapan yang lebih panjang? Tulis artikel opini untuk berita ini →